• Home
  • Opini

Jejak Tsurayya

Sedikit Catatan Kecil Yang Dirangkai Demi Sebuah Candu

facebook google twitter tumblr instagram linkedin
Ini Alasan Kenapa Muslim wajib Menulis By Jejak Tsurayya.
Sumber : Pixabay.com

Berawal dari keresahan terhadap sikap masyarakat, yang seringkali tidak manusiawi dan berlaku sewenang-wenang. Dan sangat jauh menyimpang dari kaidah syariat islam.

Atau maraknya kasus pemerkosaan, yang terjadi di dalam sebuah hubungan pernikahan. Sehingga muncullah argumen dari penulis, yang terkadang keluar dari jalurnya. Argumen itu sering saya sebut sebagai " logika berargumen tanpa iman ". Logika ini yang kemudian menjadi biang kerok dari berbagai tulisan yang tidak berisi dan tidak bertanggungjawab.

Sebagai contoh, tulisan yang seolah menghalalkan perilaku seks bebas di luar pernikahan, asalkan didasari atas rasa suka sama suka. Dari pada seks di dalam pernikahan yang diwarnai dengan tindak asusila, seperti pemerkosaan atau KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ). Serta masih banyak lagi tulisan-tulisan yang tak berfaedah. 

Iya kalau nalar si pembaca sekuat imannya, bisa saja ia dengan mudah mengatakan bahwa artikel yang barusan dibacanya berkonotasi negatif. Kalau kebetulan ia tak selihai itu dalam mencerna informasi ? Sudah pasti akan banyak pembaca yang berspekulasi senada dengan penulis. 

Dan hebatnya lagi, dari beberapa komentar pro dan kontra yang dijawabnya, saya mengetahui bahwa penulis tersebut adalah seorang wanita BERJILBAB ! Wow ! Berarti beliau muslim dong ?! Berarti bukan hanya misionaris yang menyerang akidah-akhlak muslim saja, melainkan sesama muslim yang kini  mulai memainkan ideologi masyarakat kita ! Sebegitu dahsyatnya dunia media sekarang. Ghozwul Fikri ( perang pemikiran ) yang seringkali dianggap remen-temeh, justru ampuh mengoyak akidah dan akhlak kita sebagai seorang muslim.

Media seharusnya menjadi alat yang efektif dalam mengedukasi umat dengan informasi yang mengandung kebenaran. Terlebih bentuk informasi yang berkaitan dengan islam. Agar masyarakat dapat berperilaku sesuai tuntunan syari'at islam secara utuh, tanpa mencampur adukkan antara yang hak dengan yang batil.

Akan tetapi, masyarakat kita terlalu sering dicekoki dengan banyaknya berita tak penting. Seputar selebritis, atau pun dunia persinetronan yang digandrungi masyarakat, dengan adegan ala kebarat-baratan. Fakta ini yang kemudian menimbulkan regenerasi umat yang super alay bin lebay. Kemampuan berpikir mereka sangat minus dalam menyerap informasi yang diterima.  Sehingga, ketika membaca informasi yang menggunakan permainan logika, mereka langsung mengiyakan tanpa klarifikasi apakah artikel tersebut jelas kebanarannya, atau hanya berisi hoax saja.

Fenomena ini yang menjadikan para penulis muslim untuk terjun langsung dan berjuang dalam permainan politik media. Baik itu media online, maupun sosial media. 

" Ilmu itu bagaikan hasil buruan di dalam karung, menulis adalah ikatannya " 
- Imam As -Syafii -

Mari kita sedikit menengok kilas balik,  ketika islam berada pada puncak masa keemasannya. Dimana benua Eropa dan Amerika mengalami kemunduran dan kegelapan pada saat itu. Dalam catatan sejarah, peradaban islam tak lepas dari budaya keilmuan seperti membaca, meneliti, menulis, dan berdiskusi. Tokoh - tokoh besar islam sangat produktif berkarya di berbagai bidang. Seperti Imam As-Syafii, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Ghazali, Ibnu Taimiyah dan masih banyak lagi yang karyanya masih dipelajari hingga saat ini.

Islam kerap kali digambarkan oleh pihak yang tak mengenalnya sebagai agama yang terisolasi. Semata karena budaya membaca dan menulis yang kian hilang dari peradaban. Maka tak heran kenapa islam kini begitu terbelakang. Kiblat keilmuan pun sudah merujuk pada standar keilmuan barat dengan sengaja meniadakan tokoh keilmuan muslim serta pengaruhnya.

Namun banyak yang tak sadar. Sesungguhnya islam tak pernah sedikit pun mengalami kemunduran. Terbukti dengan semakin banyaknya tingkat kesadaran umat akan pentingnya budaya literasi. Dan banyak pula komunitas - komunitas yang secara tegas mengupayakan budaya berliterasi khususnya bagi umat muslim itu sendiri.

" Jika kau bukan anak Raja, juga bukan anak Ulama' besar, maka MENULISLAH " 
- Imam Al - Ghazali -

Sebuah kalimat dari Imam Al - Ghazali ini, setidaknya sudah mampu menggerakkan hati kita untuk mulai menulis. Jika kita tak mampu berdakwah bil lisan, setidaknya dakwaklah bil qolam. Dengan tulisan, dengan pena kita meski titik darah menjadi tintanya. Ketahuilah, para  orator mungkin dikenang dari gaya penyampaian dan beberapa kalimat intinya saja, sedangkan penulis melalui tulisannya akan terkenang dengan gagasan pemikirannya yang tersampaikan secara utuh.

" Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus ribuan malah jutaan kepala "
- Sayyid Quthb -

Jika tulisan tak bertanggungjawab saja mampu membius jutaan kepala seorang muslim, dipastikan jutaan akhlak dan akidahnya pun ikut terbunuh. Lantas, siapakah yang akan menjaga kehormatan agama islam ini kalau bukan kita?

Rasulullah pernah bersabda, "Hampir saja  orang - orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang - orang yang menyerbu makanan di atas piring. "

Seseorang berkata, " Apakah sedikitnya kami waktu itu ? " 

Beliau bersabda, " Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Allah mencabut rasa takut musuh - musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. " 

Seseorang bertanya, " Apakah wahn itu ? "
Beliau menjawab, " Cinta dunia dan takut mati. " ( HR. Ahmad, Al - Baihaqi, Abu Dawud )

Mungkin tidak ada agama yang mampu melebihi jumlah umat muslim, namun tidak ada agama yang lebih terpecah-belah dari pada umat muslim sendiri. Salah satu penyebab utamanya ialah ghozwul fikri. Dari sinilah kita tahu betapa pentingnya urgensi dakwah.

Dakwah di era modern ini memerlukan kekuatan dari  sudut pandang khususnya di bidang literasi. Literasi pun harus menyediakan informasi yang dilandasi kepada ideologi islam, sebagai bekal kaum muslim dalam mencerna dan menilai banyaknya informasi dan peristiwa dengan  lensa Aqidah Islam yang utuh. 
Berikut strategi ampuh dalam berdakwah bil qolam, untuk memenangkan pertempuran di media :

1.  Jernihlah dalam menerima dan menyampaikan kabar, tidak perlu emosi karena banyaknya postingan atau informasi yang sengaja memancing emosi pembacanya. Lakukan dulu tabayun sebelum menyebar berita yang dikhawatirkan adalah berita hoax.

2. Pastikan berita valid atau minimal mendekati valid. Lakukan riset berita dengan mempelajari angle berita, dan identifikasi tentang medianya ( ideologi pemilik media ). 

3. Setelah memastikan bahwa berita itu valid, buatlah opini dakwah kita dengan sudut pandang islam yang sarat dengan informasi bergizi. 

Informasi tersebut dapat berupa pemikiran islam, informasi seputar geliat dunia islam, tafsir, hadist, peristiwa politik - ekonomi internasional, dan masih banyak lagi informasi yang dapat dimasukkan ke dalam opini kita.

4. Ketika opini kita telah muncul ke dunia maya, terapkan di dunia nyata agar kekuatan opini kita menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan umat islam kepada perubahan yang benar sesuai syariat islam.

" Kemuliaan bukan milik mereka yang diam, tetapi milik mereka yang memuliakan dan berjuang untuk islam "

Dengan ini, semoga kita tak acuh lagi terhadap serangan-serangan yang gencar dilakukan dalam media. Jangan egois terhadap ilmu. Berbagilah ! Minimal satu hari satu ayat saja atau satu ilmu kita ajarkan, mudah - mudahan ketika orang yang membacanya mendapat hidayah, Allah kemudian merahmati kita dengan hidayah dan karunia-Nya. 



Share
Tweet
Pin
Share
1 coment�rios
Materi lanjutan dari SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.1 )

Shiroh. Sebuah ilmu yang tak akan ada habisnya untuk dibahas. Penting untuk dipelajari agar kita tak melupa dengan sejarah agama kita sendiri, Islam. Di dalamnya memuat jutaan kisah yang lebih romantis dari sekadar novel Titanic. Lebih dramatis dari cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih. *Abaikan.

Tulisan ini sengaja tidak langsung menjurus kepada kisah - kisah pada umumnya. Semata agar kita juga mengetahui hal lain yang sangat jarang masuk ke dalam pembahasan pada kajian. Next... ( Masih tentang Jazirah Arab ) 

Letak Mekah

Kota mekah ialah nama kota suci kaum Muslimin. Di kota Mekah inilah nabi kita tercinta, Muhammad  Shalallahu 'alaihi wassalam, dilahirkan. Di sini pula Ka'bah ( baitullah ) berdiri kokoh. Tempat ketika seluru Muslim di dunia menghadapkan diri ketika sedang sholat.

Sebenarnya kota Mekah adalah sebuah lembah yang tidak begitu luas di tengah lautan pasir. Nabi Ismail lah yang pertama kali membuat Mekah menjadi sebuah kota. Ribuan tahun lalu, lembah Mekah hanya sekadar tempat persinggahan rombongan kafilah. Baik yang datang dari Yaman menuju Palestina maupun sebaliknya, yang datang dari Plestina menuju Yaman. Lembah ini dikelilingi oleh bukit - bukit yang sangat rapat jaraknya. Begitu rapatnya sehingga hanya ada tiga jalan untuk keluar - masuk Mekah. Jalan pertama menuju arah Yaman. Jalan kedua menuju Laut Merah. Dan yang ketiga mengarah ke Palestina.

Pakaian Orang Arab

Selain letak, ciri khas lain dari negara Islam ini ialah pakaiannya. Penduduk asli Jazirah Arab adalah suku Badui. Pakaian mereka longgar, hangat pada musim dingin, dan sejuk pada musim panas.

Pakaian ini menjaga kulit dari sengatan matahari serta angin kering. Pada zaman para nabi, pakaian ini terdiri atas dua helai. Satu helai melilit tubuh dari bawah ketiak. Satu helai lagi adalah sebuah jubah panjang sampai kaki dan terbuat dari bulu domba atau unta. Warnanya krem dengan lurik tegak berwarna hitam, biru, coklat atau putih.

Pakaian wanitanya panjang menyapu tanah dan sangat longgar. Selendang melilit pinggang, jubahnya berlurik merah, kuning, hitam atau biru. Cadarnya berwarna hitam atau putih. Tudung kepala berwarna merah, putih, atau cokelat melindungi mata, telinga, dan hidung dari debu dan badai pasir.

 Suku Badui

Penduduk Badui memiliki tinggi yang sedang namun kekar, cekatan, dan kuat menanggung derita di alam yang keras. Mereka adalah prajurit pengelana yang tangguh. Jika ada anggota yang tewas, para lelaki badui akan segera membalas pembunuhnya. Mereka berani dalam bertempur dan sabar dalam kekalahan.

Meski demikian, suku Badui terkenal ramah, ringan tangan, dan sangat menghormati tamu. Memiliki sifat yang tenang, sabar, dan tidak cepat marah. Orang Badui sangat mengagumi keindahan syair. Jiwa penduduk Badui mudah terpanggil pada kebenaran. Mereka adalah orang yang sederhana. Ketika makan, mereka duduk di lantai dengan wadah makanan di lutut. Mereka tidak membedakan mana majikan dan mana bawahan. Semua sama rata.

Kepada penduduk inilah Nabi Muhammad diutus. Berkat bimbingannya, orang - orang dari padang pasir yang sunyi ini mampu mengguncang dunia. Merekalah yang akhirnya menyebarkan agama islam ke seluruh dunia. Juga sukses menjadikan umat islam sebagai umat yang besar dan dihormati.

Namun, jauh sebelum menyebar ke penjuru bumi, perjalanan umat islam di Jazirah Arab dimulai oleh kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Beliau adalah nenek moyang Nabi Muhammad Sholallahu'alaihi wassalam.

Kemah Badui

Tenda - tenda penduduk Badui terbuat dari bulu kambing yang ditenun renggang, agar ada celah untuk peredaran udara. Kala lembab dan hujan, seratnya merapat menangkal air. Pada musim panas, kemah terasa teduh dan angin berhembus dari samping. Pada musim dingin, udara hangat karena hanya bagian depan yang terbuka. Perabotan dalam kemah terbatas pada tikar untuk tidur, perkakas dapur, dan kantong air yang terbuat dari kulit.



Kisah ini diambil dari berbagai sumber.
#SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.2 )
Share
Tweet
Pin
Share
No coment�rios
Pelacur Itu Lebih Diterima Amalnya. 

Apa yang ada di pikiran kita ketika mendengar kata " pelacur " ?

Hina ? rendahan ? perempuan nakal ? jorok ? atau ribuan kosakata yang saya sendiri tidak faham akan maknanya.

Pelacur atau bahasa halusnya kupu - kupu malam identik kaitannya dengan pekerjaan wanita sebagai penghibur demi mendapatkan  sejumlah materi dengan nominal tertentu. Namun saya tidak akan membahas lebih dalam tentang pekerjaan ini. Tetapi lebih kepada sikap kita terhadap sesama manusia yang sama - sama punya hak untuk bahagia.

Sering kan kita merasa jijik dengan mereka yang PERNAH berprofesi menjadi seorang pelacur, meskipun kini mereka sedang meniti hijrah. Seolah tak sebutir pun kebaikan yang kita lihat dari mereka. Padahal tidak semua pelacur benar - benar enjoy dengan profesi yang mereka jalani. Selalu saja ada alasan di balik semua masa kelamnya yang tidak mungkin kita mengerti. Bisa jadi karena desakan ekonomi atau tekanan psikis dari lingkungannya.

Mudah bagi kita menjaga perintah agama yang sejak kecil tertanam. Hidup di daerah kondusif tak ayal menjadikan kita merasa berhak menjudge bahwa pelacur itu seorang yang benar - benar kotor. Kita tahu tentang ayat yang mengatakan bahwa laki - laki pezina untuk wanita pezina begitu juga sebaliknya. Tapi, mungkin kita lupa tentang ayat yang mengatakan bahwa setiap dosa itu akan diampuni jika saja kita bertaubat. Allah tidak pernah memandang siapa kita di masa lalu. Tapi Ia melihat bagaimana kita di masa sekarang.

" Katakanlah , " Wahai hamba - hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri ! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa - dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. ""  ( Qs. Az - Zumar : 53 ).

Kita selalu mengorek masa lalunya demi kepuasan yang  tak berlevel. Dengan santainya tanpa merasa berdosa kita terus - terusan mengusik hidup mantan kupu - kupu malam ini dengan gunjingan sampah. Seolah mereka adalah seorang yang paling layak untuk dijauhi.

" Dulu dia itu pelacur loh. "
" Dulu dia suka main judi loh. "
" Dulu dia ahli maksiat loh. "
" Dulu dia playboy yang pacarnya 100 loh. "

Dulu, dulu, dan dulu. Selalu saja kita sibuk  mengungkit kejadian masa lalu yang sama sekali tak penting. Siapa sih yang ingin hidup di masa lalu saja ? Mereka juga berhak memiliki masa depan yang cerah. Dan sangat berhak meraih manisnya hidayah dari Illah. Jangan mentang - mentang kita tak pernah terjun ke dunia mereka lantas berpikir bahwa mereka selamanya adalah pendosa yang  tak pantas meniti hijrah bersama kita.

Mungkin kita masih belum faham, bahwa ada dosa yang lebih besar dari dosanya seorang pezina. Yaitu ghibah. Coba cek lagi. Seberapa sering kita berghibah ? Atau jangan - jangan amalan kita telah habis berpindah ke orang yg kita gunjing setiap harinya. Imam Al Ghozali bahkan pernah berkata :

" Ghibah adalah sebuah dosa yang bisa merusak pada amalan ta'at. Perumpamaan orang yang ghibah adalah seperti orang yang memasang alat pelempar, kemudian dia melemparkan kebaikan - kebaikannya ke timur dan ke barat. Ke kanan dan ke kiri. "

Dari Jabir bin Abdillah dan Abi Sa'id Al - Khudri pun keduanya berkata : Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : " Takutlah kamu semua terhadap ghibah. Karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dosanya daripada berzina. "

Rasulullah ditanya : " Bagaimana bisa ghibah lebih berat dosanya daripada zina ? "


Beliau menjawab : " Sesungguhnya seorang laki - laki kadang berzina kemudia bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya, sedangkan orang yang menggunjing tidak diampuni dosanya sampai orang yang digunjing mau mengampuninya. "


( HR. At - Tabrani dalam Al - Ausath dan dalam sanadnya terdapat 'Ubad bin Katsir As - Tsaqofi dan dia ini matruk, sumber : Kitab Majma' Zawaid : 8/92 ).

Terkadang taubatnya seorang pezina ( pelacur ) itu lebih mengerikan dibanding  kita. Meski kita seorang penghafal Al - Qur'an sekali pun. Lebih di dengar bisikannya dari kita yang biasa saja dalam beribadah. Jeritan hatinya ketika berdoa lebih menggetarkan tujuh langit  dari pada kekuatan doa kita yang sederhana. Mereka lebih Takut kepada Allah dari kita yang lalai dan menganggap pertemuan kita dengan Allah itu tiada. Ketika bumi telah bersaksi dan langit pun turut merahmati, maka kita bisa apa ? Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Ia pula yang memberikan rahmat kepada siapa saja yang dikehendaki.

Ketakutan kita terhadap besarnya dosa zina, jangan malah membuat kita berlepas tangan kepada para mantan pelacur yang sedang berjuang memegang kendali istiqomah dalam hijrahnya. Rangkul mereka kuat - kuat. Kita tak pernah tahu seberapa keras ia meminta ampunan kepada Rabbnya. Seberapa sakitnya ia menahan gunjingan - gunjingan di luar sana. Dan seberapa susahnya ia menyembunyikan masa lalu demi tekadnya dalam berhijrah. Terus berbagi motivasi dan selalu kuatkan hatinya agar ia tak kembali kepada masa kelam ketika iman tengah mencapai level futur. Katakan pada mereka bahwa prosesnya kini sangatlah Allah cintai. Yakinkan ia, bahwa seluruh alam pun ikut tersenyum melihat usahanya untuk berhijrah. Jangan lupa, malaikat pun turut berdoa agar syurga kelak yang akan didapat . Semoga kita pun kelak bersama orang - orang yang ta'at di jannah-Nya. Allahu a'lam.




Share
Tweet
Pin
Share
2 coment�rios
sumber: pixabay.com
Targhib Menuntut Ilmu ( Bag. 2 ).
Sebuah catatan lanjutan dari tulisan Jejak Tsurayya yang berjudul Targhib Menuntut Ilmu ( Bag. 1 ). Di sana dijelaskan tentang tiga hal yang menjadi pedoman  manusia dalam menuntut ilmu. Nah, di sini akan membahas apa aja sih punishment dan reward bagi penuntut ilmu.

" Lho, nuntut ilmu juga ada punishmentnya kak ? " 
"Iya. Makannya simak baik - baik ya. "

Bagi setiap muslim/muslimah,  menuntut ilmu syar'i agama bukan lagi dikenai hukum sunnah melainkan wajib bagi kita yang mengaku sebagai umat islam. Hal ini sudah jelas digambarkan pada wahyu yang pertamakali Rasulullah terima di gua Hira. Qs. Al -Alaq. Perintah untuk membaca dan menulis. Pada arti dalam surat tersebut saja sudah bisa menjadi landasan pokok kita sebelum beramal. Ya, karena ilmu itu memang di atas amalan. Sebelum kita melakukan suatu amal, hendaknya  tahu terlabih dahulu seperti apa dasar ilmunya. Sehingga tidak asal - asalan dalam menerapkan amal. Diperkuat lagi tatkala Allah memberikan isyarat dalam Qs. Al - Isra : 36.

 " Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. " Ini adalah rambu - rambu Allah supaya kita tidak lalai dan terkesan menyepelekan betapa pentingnya mempelajari ilmu yang akan kita amalkan.

Punishment
Kenapa bisa saya katakan penting ? tak lain karena ancaman punishment Allah yang akan dibebankan kepada seorang ketika lengah dalam menuntut ilmu.

" Dan sungguh akan kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat - ayat Allah ). Dan mereka memiliki mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda - tanda kekuasaan Allah). Dan mereka memiliki telinga ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ( ayat - ayat allah ). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang - orang yang lengah. " - Qs. Al - A'raf : 179.

Please deh. Nggak mau kan disebut sebagai hewan ternak ? kita kan lebih berakal. Masa iya mau disamain sama hewan ternak yang nggak punya akal ? Kalau istilah untuk manusia yang nggak berakal si gila. Sudah gitu jahannam pula hadiahnya. Aduh.. naudzubillahimindzalik deh. Kalau kata teman saya, " Lebih baik aku di tendang ke syurga dari pada dihalusin ke neraka. "

Jadi, masih tetep ngeyel ? nih, coba baca lagi. Ada di Qs. Al - Mulk : 8 - 9.

" Hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan ( orang - orang kafir ) dilemparkan ke dalamnya, penjaga - penjaga ( neraka itu ) bertanya kepada mereka, " apakah belum pernah ada yang datang memberi peringatan kepadamu ( di dunia ) ? ."" -8-

" Mereka menjawab, " benar, sungguh seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan kami katakan, Allah tidak menurunkan suatu apa pun. " Kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar. " -9-

Saya tidak bisa membayangkan. Kalau penjaga sekolah yang marah mungkin sudah biasa kali ya. Tapi bagaimana kalau penjaga neraka yang marah ? apa nggak malu sama Allah ? Allah lho, kasih sinyal kita terus untuk tetap istiqomah dalam mencari ilmu. Futur iman itu sudah pasti datangnya. Tapi, jangan kemudian kita terus mengiyakan. Segera istighfar dan tepis rasa malas dalam hati.

Udah tahu kan sekarang, seperti apa pentingnya ilmu itu ?, dan kenapa kita wajib untuk terus menuntut ilmu ?. Mencari ilmu itu sejak masih dalam ayunan sampai ke liang lahat. Sejak masih dalam buaian sampai ke tempat peristirahatan ( kuburan ). Pumpung masih ada waktu nih, yuk segera merapat. Merapat kepada ilmu pastinya. Stop malas mulai dari sekarang. Ketika virus malas melanda, ingat selalu bahwa Allah sebaik - baik pengawas. Waktu bos kita datang saja, giatnya over dosis. Masa sama Allah diem - diem saja sih !  Satu kata dari bos hanya bisa  membuat kita di PHK. Tapi satu kata dari Allah sangat bisa membuat anda rugi selamanya. Beruntungnya, sifat Allah yang Arrahman dan Arrahim itu mustahil rasanya jika Allah mendendam. Ia justru menebar kasihnya demi hidayah yang sedang kita kejar.

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan ( yang patut disembah ) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas ( dosa ) orang - orang mukmin, laki - laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu - Qs. muhammad : 19

Reward Penuntut Ilmu
Selain ilmu yang pastinya bermanfaat, apa aja sih keuntungan yang kita dapat ?
Lagi - lagi di jelaskan pula dalam Al -  Qur'an yakni pada Qs. Al - Mujadilah : 11

"Wahai orang - orang yang beriman ! Apabila dikatakan kepadamu, " berilah kelapangan di dalam majelis - majelis. " Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "berdirilah kamu" maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat ( derajat ) orang - orang yang beriman di antaramu dan orang - orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan."

Para penuntut ilmu akan memperoleh keutamaan yang agung di dunia dan akhirat, sebab ia telah rela mengerahkan tenaga, fikiran, serta hartanya demi memenuhi hasratnya yang haus akan ilmu. Karenanya, Allah memberikan kelapangan serta ditinggikannya derajat mereka. Selain itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju syurga. Maka, berlomba - lombalah dalam kebaikan. Allahua'lam.

Share
Tweet
Pin
Share
No coment�rios
Cinta Dan Setia Itu Berat


Sebuah catatan dari jejak tsurayya yang sedang belajar memahami dua kata. Cinta dan setia. Sedikit warna dari ragam  iman yang tak akan pernah bisa anda fahami jika belum melewati yang namanya gelombang ujian. Ujian penentu iman ini bahkan dipertegas dalam Al-Qur'an, " tidaklah suatu hamba dikatakan beriman jika belum datang suatu ujian kepadanya. "

Kalau anda hobi membaca novel, tentunya ada banyak contoh kisah yang menggambarkan betapa rumitnya mengaplikasikan dua kata yang terdengar indah ini.  Tapi sayangnya mindset kita terlalu kecil dalam memahami maksud dari cinta dan setia. Dengan kata lain, mungkin kita telah faham. Tapi belum benar - benar faham.

" Ah, sudahlah ! omong kosong dengan cinta manusia. Banyak orang bilang lahirnya seorang bayi adalah bukti dari cinta kedua insan. Kalau seperti itu, apakah dampak dari pergaulan bebas juga bagian dari cinta ? nyatanya semua sekadar pemuas nafsu gila saja. "

Dan saya berani mengatakan, ya ! anda benar. Mungkin itu juga alasan kenapa dulu saya tak berani membuka satu pun pintu hati untuk yang lainnya. Merasa bahwa cinta manusia itu penuh kepalsuan. Selalu ada maksud kotor dibaliknya. Istilah umumnya modus. Hanya berhasrat memiliki tanpa ada usaha real untuk memperjuangkan dalam pembenahan diri.
Tapi, bukankah pemikiran seperti itu akibat dari pengaplikasian cinta yang sudah keluar dari jalurnya ? saya tidak akan menjelaskan lagi bagaimana cinta yang salah itu. Karena sudah dijelaskan pada opini absurd saya yang berjudul Cinta ! Jangan Gegabah. Akan tetapi, saya akan memberikan penagasan di sini bahwa, ketika kita berharap hanya pada manusia tanpa melibatkan Allah di dalamnya, maka jelas. Cinta yang kita pendam itu salah. Sebab Allah sangat pencemburu. Ia yang hadirkan indahnya rasa di hati kita, kenapa Ia yang diduakan ? Ini yang seringkali membuat kita dihadapkan tentang perihnya berharap kepada selain-Nya.

Kembali kepada topik cinta dan setia. Akhir - akhir ini, kerapkali saya mendengar keluhan tentang " remaja baper karena putus cinta " atau " remaja galau karena ditinggal nikah. " Yang akhirnya membuat mereka benci jika melihat postingan terkait pernikahan. Merasa sensi jika menyinggung serba - serbi pernikahan. Dan aura negatif selalu saja membayangi pemikiran dari para remaja. Tak terkecuali remaja yang baru saja menapaki dimensi hijrah. Di awal hijrah, semangat mereka senantiasa menggebu - gebu. Apa lagi jika mengikuti seminar pranikah misalnya. Seolah kalimat dari pemateri langsung membius mindset bahwa hijrah identik dengan nikah dini. Duh, pemikiran dari mana ini? padahal yang dimaksud si pemateri adalah fase pembenahan akhlak pribadi.

Jodoh cerminan diri. Itu artinya akhlak dan kelakuan kita yang perlu dibedah. Hijrah itu fase di mana kita melakukan up grade iman. Meninggalkan masa kelam demi menyongsong masa depan. Hijrah bukan nikah ! jangan terburu - buru bicara cinta, apalagi nikah. Karena hijrah bukanlah sekadar cover. Sangat keliru bila perubahan fisik (pakaian) semata dilakukan untuk menimbulkan ketertarikan antara lawan jenis. Ingat ! wanita atau pemuda beriman tak silau dengan cover yang nampak. Mereka lebih bisa berpikir realistis. Bahwa, kadar keimanan seorang bukan saja dilihat dari pakaian yang dikenakan. Tetapi akhlaklah yang lebih bisa menembus benteng hati. Iman bertemu iman. Cocok kan ? saya ingat ketika seorang kawan ikhwan pernah menulis status seperti ini,  "jika aku melihat wanita bercadar, itu tak ada bedanya saat aku melihat wanita berbikini." Nah, lho ! Semuanya tentang akhlak. Rubah mindset hijrah dari sekarang. Motivasi hijrah  adalah meningkatkan kualiatas iman.Titik ! lalu, apa kaitannya iman dengan cinta dan setia ?

Jadi yang ingin saya katakan adalah iman, cinta, setia, dan pernikahan itu saling berkaitan. Sejenak mari kita kembali kepada pembahasan di awal tulisan ini terkait ujian. Rasanya mustahil kalau pernikahan itu selalu dipenuhi canda dan tawa bernada romansa. Apalagi menyatukan dua karakter yang berbeda. Tak mudah. Bahkan dua bulan bukanlah waktu yang cukup untuk memahami pasangan kita nantinya. Kita tak berhak menjudge dia seperti ini, dia seperti itu. Ingat, setiap orang bisa berubah. Nah, di sini perjalanan baru dimulai. Cinta dan setia yang tidak dibekali iman sebelumnya pastinya tak akan menuai sebuah kesabaran dalam mengahadapi ujian.

Ujian itu pasti ada. Dan semua manusia sama - sama akan merasakan betapa beratnya badai yang bernama ujian ini. Hanya saja yang membedakan kita adalah manajemen dalam menghadapi ujian itu sendiri.  Mampukah kita bersabar ? masihkah cinta dan setia itu hadir sebagai solusi atas hubungan rumah tangga yang mulai retak ? Apa anda sudah siap menghadapinya ? bagaimana anda akan tahu, jika yang anda siapkan hanya menerima kelebihan dari pasangan, sedangkan anda sama sekali tak bersiap untuk menerima kekurangan mereka. Bagaimana pula anda akan mampu melewati badai ujian kelak, jika yang dibayangkan soal pernikahan hanya kesenangan saja. Itu kenapa tadi saya menyarankan untuk merubah mindset hijrah. Motivasi hijrah  adalah meningkatkan kualiatas iman. Karena hanya dengan berbekal iman, kita akan kenal yang namanya kata cinta dan setia. Dua kata ini terkesan ringan diucapkan, namun banyak yang melupakan. Sangat sedikit yang mampu memegang kendali agar rumah tangga senantiasa tegak meski dilanda badai perceraian sekali pun. Yang tak kuat, bersiaplah goncang lalu tumbang.

Ada contoh kisah nyata di mana sebuah keluarga sudah berada di ujung tanduk. Pokok permasalahannya sepele. Soal ekonomi. Tapi tindakan suami sudah melampaui batas. Ia menceritakan aib istrinya kepada orang lain. Dalam sebuah keluarga, ini adalah kondisi yang kurang sehat. Selain terkena pasal ghibah, permasalahan keluarga hendaknya kita sendiri yang menyelesaikan. Sebab kita yang tahu bagaimana kondisi keluarga sendiri. Bukan orang lain. Apalagi jika orang ke tiga itu tidak bisa menjadi perantara mediasi.

Sebenarnya, bisa saja permasalahan ini dibicarakan baik - baik tanpa perlu emosi. Hanya saja orang dewasa selalu mengedepankan egonya masing - masing. Mereka tak mau melepas, tapi juga tak mau mencari solusi. Selama kurang lebih dua pekan perang dingin. Suasana rumah layaknya neraka saja. Anak - anak pun ikut terkena dampaknya. Suram. Kehidupan mereka seperti kuburan. Ada namun tiada.

Tak lama tawa dan riang anak - anak muncul kembali. Pasangan ini terlihat mesra sekali. Seperti pengantin baru saja. Padahal usia pernikahan mereka hampir mendekati angka 30 tahun. Kondisi membaik. Kembali hangat seperti keluarga idaman lainnya. Coba tebak. Apa yang membawa perubahan begitu indahnya dalam keluarga itu ? Tak lain karena dasar cinta dan setia dari kedua belah pihak. Mungkin ini yang dinamakan cinta karena Allah. Si suami sama sekali tak terlihat sebagai pemimpin dalam kriteria islam. Hanya saja ia seorang yang setia kepada istrinya, meski sang istri pemarah naudzubillah. Dan juga cinta tulus dari sang istri pun yang membuat ia menerima semua kekurangan suaminya, meski kalau dihitung jumlah kesalahan suami seluas lautan sekali pun. Ia tetap cinta. Sifat setia dari suami menjadikan tingginya  bakti dari seorang istri kepada suami. Sebuah keimanan yang menghasilkan cinta dan setia dalam kesabaran. Ah, sungguh iri saya dibuatnya.

Mengingat di zaman sekarang, sangat sedikit orang yang mampu bertahan pada kondisi ini. Ditambah berita perceraian artis yang semakin sering saja terdengar. Saya heran, kenapa mereka mudah sekali memutuskan untuk bercerai, padalah Allah sangat membencinya. Kemana perginya cinta yang sering mereka sebutkan ? Di mana letak setia yang selalu mereka umbar kepada media ? Allahua'lam.

Maka dari itu, sebelum anda mengarungi bahtera yang diidamkan, ada baiknya mempersiapkan iman terlebih dahulu. Perbaiki akhlak yang belum benar. Cari bekal sebanyak mungkin. Bisa dengan membaca, mengikuti seminar atau pengajian, serta berkumpullah dengan orang - orang yang sekiranya ringan kata untuk mengingatkan jika kita salah. Senantiasa up grade iman dan takwa, dan jangan pernah berhenti dalam berdoa. Tetap bersyukur meski kini statusmu masih menjoblo. Barangkali karena kita belum siap, maka Allah siapkan kita dengan caranya. Karena Allah sayang, maka ia tak akan ingkar. Selamat berhijrah, semoga anda selalu dalam kondisi istiqomah mengejar Illah until jannah.




Share
Tweet
Pin
Share
2 coment�rios

SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.1 ).

Adalah wajib bagi kita sebagai umat muslim mengenal lebih dalam tentang kisah - kisah dari tokoh Nabi dan para sahabat yang membawa agama kita yang mulia ini (Islam)

Namun, sebelum masuk kepada materi inti, ada baiknya kita mengenal seperti apa sih Jazirah Arab tempat kelahiran Nabi Muhammad ini.

Dari mindset kebanyakan, orang lebih mengenal bahwa Jazirah Arab adalah tempat tandus yang hanya terdapat gurun pasir saja. Padahal sebenarnya tidak.

Ada banyak tempat subur yang telah dihuni sejak zaman Nabi Ibrahim membangun ka'bah. Tempat subur itu terletak di daerah pantai, seperti Yaman, Yamamah, Hadramaut, dan Ahsa.

Di bagian tengah Jazirah Arab juga terdapat daerah subur yg dikenal Najd. Wilayah ini juga dikenal sebagai tempat asal kuda Arab yang paling baik.

Najd dan Yamamah juga terkenal sebagai penghasil gandum. Demikian banyak gandum yang dihasilkan sehingga konon mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Jazirah Arab yang ketika Nabi Muhammad dilahirkan berjumlah sekitar 10 juta- 12 juta jiwa.

Di kota Madinah terdapat bukit -bukit yang baik untuk ditanami. Sementara itu, kota Thaif terkenal karena buah-buahannya.

Di luar daerah tersebut, Jazirah Arab dipenuhi gunung dan bukit-bukit batu yang besar. Tidak ada sungai mengalir. Suhu udaranya sangat panas. Karenanya, penduduk Arab umumnya suka berpindah/musafir kemana saja yang dapat memenuhi keperluan hidup sehari-hari berserta hewan-hewan ternak mereka.

Catatan Tambahan

Unta

Unta ialah kendaraan yang sangat diandalkan penduduk gurun pasir. Ia dapat menjelajahi gurun selama 17 hari tanpa minum.

Walaupun pelan, jika dipacu unta dapat menempuh jarak 300 km dalam sehari. Unta mau malahap ranting dan rumput pahit yang di jauhi kambing. Unta juga mau meminum air berlumpur dan mengubahnya menjadi susu bermutu tinggi yang dapat digunakan sebagai obat tetes mata.

Dagingnya dimakan, bulunya dibuat tali, kulitnya dapat menjadi aneka alat, mulai dari sandal sampai atap dan perisai perang. Air seninya menjadi sampo pencuci rambut. Kukunya dibakar dan diulek menjadi tepung untuk obat luka atau adonan kue.

Kotorannya dapat dipakai sebagai bahan bakar. Unta adalah karunia Allah untuk penduduk gurun pasir.

Nah, itu tadi sedikit pengenalan tentang Jazirah Arab. Jujur saya mesih sangat awam dan saya kira anda lebih banyak tahu terkait Shiroh. Mohon krisar ( Kritik dan Saran ) apabila anda menemukan kejanggalan dalam tulisan ini. Terimakasih

Sumber :
Kisah buku shiroh nabawiyah

#SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.1 )

Share
Tweet
Pin
Share
No coment�rios


Bagian 1 (Pedoman Manusia Dalam Menuntut Ilmu)

Tiga Pedoman Manusia  Dalam Menuntut Ilmu :

1. Man Rabbuka (Siapa Tuhanmu ?)
2. Man Dinnuka (Apa Agamamu ?)
3. Man Nabiyyuka (Siapa Nabimu?)

Tiga pedoman ini hendaknya menjadi acuan kita dalam hal menuntut ilmu.

Siapa Tuhanku ? Apakah aku sudah mengenal betul siapa dan bagaimana Tuhanku yang selama ini aku sembah ? Sedekat apa aku dengan-Nya sekarang ? Kenapa hidupku selalu bergelimang harta tanpa kurang sedikit pun ? Atau jangan - jangan aku termasuk orang yang ditangguhkan di dunia, sedang azab menanti di sana (akhirat).

Apa Agamaku ? Ah, agamaku Islam. Tapi benarkah seluruh ajaran islam telah kupenuhi ? Orang sering menangis haru menyabut kata islam. Tapi mengapa aku merasa hambar saja ? Apakah aku terlampau jauh mengenal agamaku sendiri ? Bahkan orang dari agama lain mempelajari dengan teliti tentang islam. Tapi kenapa aku tidak ? Selama ini materi dunia yang kukejar, sedang materi akhirat tak pernah kupegang.

Lau siapa Nabiku ? Seperti apa sosok beliau  sesungguhnya ? Aku dengar ia bagai seorang yang membawa lentera di kegelapan malam. Ku dengar ia sangat mencintaiku sebagai umat lebih dari dirinya sendiri. Sungguh indah mereka yang mampu merasakan. Tapi kenapa aku justru mencintai tokoh dari film barat yang kutonton. Nabi menangis memikirkan umat sepeninggalnya, tapi kenapa aku justru lebih mudah menangis melihat alur film ?

Pernahkah kita menanyakan 3 aspek ini pada diri kita sendiri ?

Biar saya jawab, "Tidak pernah" Tepat ?

Manusia seringkali lupa untuk menanyakannya pada diri sendiri semasa hidupnya. Hingga ajal dijumpa, hilang semua kesempatan yang ada.

Bisa saja sekarang kita jawab Allah Tuhanku, Islam Agamaku, Muhammad Nabiku. Tapi besuk ketika telah lepas semua dunia ? Siapa bisa menjamin ? Lisan telah dikunci, hati dan seluruh anggota tubuh kitalah yang bersaksi.

Benarkah apa yang dikatakan lisan dahulu di dunia ? Ya, penyesalan selalu datang terlambat kala Allah sudah berkehendak.

Namun, belum terlambat jika anda sempat membaca tulisan ini meski absurd adanya.

Saya tak pandai dan minim pula dalam ilmu. Apa yang saya tulis ini sekadar mengurai kembali tentang catatan - catatan yang hampir saja membusuk di buku harian. Semoga bermanfaat.

#Mengurai catatan tsurayya yang hampir hilang 
Share
Tweet
Pin
Share
No coment�rios
Dalam aplikasinya, manusialah yang sering menjadikan rumit apa yang sudah Allah mudahkan. Terlebih dalam hal cinta.

Saya sering mengatakan kepada hati yang sedang terlena, agar tak gegabah dalam menanggapi rasa.  Apa lagi jika kita adalah tipe seorang yang mudah jatuh cinta. Khawatir gejolak itu hanya kagum semata.

Banyak sekali cerita, di mana perjuangan cinta berakhir tak sesuai rencana. Dan mirisnya, kebanyakan kasus diawali dengan sebuah janji lamaran. Ya, hanya janji yang belum pasti.

Tak perlulah berjanji bahwa besuk akan melamar. Ibaratnya tiket, kata janji itu sudah seperti booking. Booking si dia untuk dilamar besuk. Iya kalau nanti waktunya tiba, kalian menikah dengan seseorang yang dicinta. Nah, kalau tidak bagaimana?.

Zaman sekarang, remaja kita sudah termakan oleh kisah cinta yang termuat dalam novel, film, atau karya fiksi lainnya. Dengan figur yang sama-sama berkomitmen pada sebuah janji dan berakhir bahagia. Seolah-olah mereka bisa meniru cerita happy ending sesuai novel yang dibaca. 

Dalam proses menantinya, bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani. Ekspektasi  harapan untuk bahagia bisa saja hilang seiring luruhnya iman. Di sini kita akan  disuguhkan dengan berbagai perangkap zona bermain syaitan atau biasa kita sebut sebagai zina pikiran. 

Tidakkah kalian mendambakan layaknya kisah Ali bin Abu Thalib R.A dengan Fatimah bin Muhammad R.A ? keduanya mencintai dalam diam. Nggak ada tuh, istilah Ali R.A berjanji kepada Fatimah besuk akan melamar. 

Bahkan sebelum Ali R.A sempat mengatakan apa pun, Ia sudah dihadapkan dengan orang yg lebih dahulu melamar Fatimah. Sekali lagi, Ali hanya diam.

Tapi yang namanya garis takdir sungguh mengejutkan. Allah ternyata memilih Ali sebagai pendamping Fatimah. Bukan yang lain. Sedikit kisah ini bisa dijadikan teladan dalam hal menyikapi radar cinta yang muncul tanpa permisi.

Lho Kak, bagaimana jika semuanya sudah terlanjur ? Kita sama-sama berjanji untuk saling memperjuangkan namun tidak saling menunggu satu sama lainnya.

Jujur dalam hal ini, tak banyak yang bisa saya jabarkan. Pasalnya, pengalaman saya juga masih cetek soal cinta. Namun izinkan saya mengeluarkan apa yang ada di pikiran absurd ini.

So, kita mudah saja membuat teori A, B, dan C. Masalahnya hidup tak pernah mulus seperti pada teorinya. Itu kan yang kalian maksud ? Ada satu kondisi di mana kitalah yang benar-benar faham akan situasinya. Sehingga terlanjur  berjanji tentang sesuatu yg belum pasti.  Maka jalan satu-satunya adalah  Takwa. Lebih dekatlah kepada pemilik rasa. Karena ia yang paling Kuasa atas segalanya.

Untuk kalian yang sedang dalam proses manantikan dan memperjuangkan. Bolehlah kita menganggap proses yang kita tempuh tak melanggar syariat. Tanpa pacaran misalnya. Dengan kedok berupa "Cinta dalam diam".  

Kawan, aplikasi dari pacaran bukan hanya pada status. Berkholwat dalam sosmed atau chatingan juga bagian dari pacaran meski tanpa status. Sungguh manis bukan, cara syaitan menjerumuskan manusia . Dan sayangnya kebanyakan dari kita bahkan lupa dan tak menyadarinya, atau malah pura - pura lupa. Cukuplah kita mencintai dalam diam. Menanti dalam diam, namun riuh dalam doa.

Perhatikan setiap gerak-gerik kita. Jangan-jangan kitalah yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai seseorang yang melampaui batas. Ingat, dalam kehidupan sudah pasti akan ada banyak ujian yang menunggu untuk dibungkam dengan iman.

Sering kita risau tentang hati manusia yang sejatinya mudah berubah. Khawatir cinta terkikis karena tiada sapa antara kedua insan. Takut karena banyaknya kasus penantian yg brakhir kecewa. Takut jika ternyata dia yang sudah diperjuangkan bukanlah jodoh yg tertulis dalam Lauhul Mahfudz seperti yang diharapkan. 

Sebagai seorang yang mengaku beriman, nampaknya tak perlu risau. Dialah sang penguat rasa. Ia Pemilik hati seluruh hamba, tak terkacuali dia yang disebut sebagai calon penggenap iman. Percayalah, panas setahun akan terhapuskan oleh hujan sehari. Lelahnya penantian takwa yang kita tempuh pastilah akan terbayarkan dengan manisnya perjuangan.

Allah tiada pernah mendusta. Ia sangat mudah luluh pada hambanya yang berusaha dalam ikhtiar dan doa. Apalagi jika kita tetap bertakwa. Maka dari itu, cukup kepada Allah saja hati bermuara. Buat Ia jatuh cinta kepada ketaatanmu, dengan begitu semoga Allah senantiasa jatuhkan hatinya padamu. 

Namun jika ternyata tak berjalan sempurna,Yakinlah rencana Allah akan jauh lebih sempurna.


Share
Tweet
Pin
Share
No coment�rios

Most Popular

  • Cinta Dan Setia Itu Berat !
    Cinta Dan Setia Itu Berat Sebuah catatan dari jejak tsurayya yang sedang belajar memahami dua kata. Cinta dan setia. Sedikit warna dari...
  • SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.2 )
    Materi lanjutan dari  SHIROH : Mengenal Jazirah Arab (  Bag.1 ) Shiroh . Sebuah ilmu yang tak akan ada habisnya untuk dibahas. Penting ...
  • Targhib Menuntut Ilmu (Bag. 2)
    sumber: pixabay.com Targhib Menuntut Ilmu ( Bag. 2 ). Sebuah catatan lanjutan dari tulisan Jejak Tsurayya yang berjudul Targhib Menu...
  • SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.1 )
    SHIROH : Mengenal Jazirah Arab ( Bag.1 ). Adalah wajib bagi kita sebagai umat muslim mengenal lebih dalam tentang kisah - kisah dari...
  • Targhib Menuntut Ilmu (Bag.1)
    Bagian 1 (Pedoman Manusia Dalam Menuntut Ilmu) Tiga Pedoman Manusia  Dalam Menuntut Ilmu : 1. Man Rabbuka (Siapa Tuhanmu ?) 2....

About me

Photo Profile
Tsurayya

Penyuka warna hitam dan abu - abu yang sedang belajar menulis agar menjadikannya candu

Follow Us

Blog Archive

  • ▼  2018 (8)
    • ▼  Oktober (1)
      • Ini Alasan Kenapa Muslim Wajib Menulis
    • ►  September (7)
Diberdayakan oleh Blogger.

Wongsae Club